Peluang Nilai Tambah dari Kuli Ikan


Nelayan di Bangka Selatan berpeluang menambah penghasilan dari sektor lain selain hasil tangkapannya. Pasalnya, ikan pari yang selama ini menjadi salah satu hasil tangkapan nelayan setempat ternyata bukan hanya dagingnya saja yang laku dijual, kulitnya pun bisa menjadi peluang bisnis yang cukup menjanjikan.
Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Penanaman Modal (Diperindagkoppem) Bangka Selatan, Endang S Hermansyah kepada Bangka Pos Group, belum lama ini. Endang mengaku, beberapa waktu lalu pihaknya telah berkoordinasi dengan sebuah lembaga terkait di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) guna membuka peluang pasar bagi nelayan di Bangka Selatan yang berminat menambah penghasilannya dari bisnis kulit ikan pari tersebut. “Saya sudah buka pasar di Balai Besar Kerajinan Kulit, Karet Yogyakarta.

Dan mereka siap menampung berapapun jumlah produksi kulit ikan pari dari nelayan kita. Ini merupakan kesempatan bagus bagi nelayan kita di sini (Bangka Selatan–red),” kata Endang. Kendati demikian, Endang mengungkapkan, lembaga yang beralamat di Jalan Sukamandi Yogyakarta ini hanya menerima kulit ikan pari dalam bentuk bahan setengah jadi sebagai bahan baku mereka membuat dompet, ikat pinggang maupun berbagai jenis asesoris lainnya yang kemudian di ekspor ke luar negeri. Baca lebih lanjut

Mengolah Limbah Kulit Ikan Jadi Bahan Kerajinan


Kulit ikan hasil samakan Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi, Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BBRPPB-BRKP) bisa menghasilkan bahan baku untuk kerajinan seperti sepatu, tas, dompet, ikat pinggang, sarung HP dan jaket.

Unik menjadi kelebihan lain kerajinan dari bahan baku kulit ikan. Keunikan ini pula, pada tahun 1986, Ibu Tien Soeharto (aim), Ibu Negara waktu itu, ketika hendak melakukan kunjungannya ke Eropa berkenan memakai sepatu kulit ikan cucut dan tas dari ikan hiu. Beliau memesan produk tersebut di Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi (BBRPPB), Slipi, Jakarta.

BBRPPB memang meneliti penyamakan kulit ikan menjadi bahan baku kerajinan ini sejak tahun 1980-an. Artinya sebelum industri dan kerajinan perkulitan berkembang seperti sekarang, pemanfaatan limbah ikan (kulit ikan) menjadi bahan bernilai tambah telah dirintisnya sejak mula.

“Namun kami akui, sosialisasi kami memang kurang, sehingga penyamakan ini kurang bermasyarakat,” ungkap Kepala Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi (BBRPPB) Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP Hari Eko Irianto kepada Demersal baru-baru ini di Jakarta. Baca lebih lanjut