Membendung Gempuran Impor Perikanan


Siapkan rintangan untuk memperlambat arus importasi komoditas perikanan. Produksi perikanan harus diperkuat

Tanpa diundang, berbagai komoditas perikanan dari negara-negara di kawasan ASEAN (Asociation of South East Asian Nation) dan China sudah merambah Indonesia. Mau tidak mau, siap tidak siap, pemberlakuan ACFTA (ASEAN – China Free Trade Agreement) awal 2010 lalu membuka pintu gerbang impor berbagai produk luar negeri termasuk perikanan.
Sebut saja ikan patin/dori dan teri dari Vietnam, Myanmar, dan Malaysia. Lalu ada ikan Tilapia (mujair) hitam dari Malaysia, serta salem dan kembung dari China. Sederet komoditas unggulan perikanan tersebut mulai merajalela di pasar dalam negeri. Indikatornya terlihat dengan meningkatnya angka importasi.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan, pada triwulan pertama 2010 nilai impor perikanan mencapai US$ 77 juta. Angka tersebut mengalami kenaikan 32% jika dibandingkan pada triwulan pertama 2009 yang hanya sebesar US$ 58 juta. Padahal jika dibandingkan data Badan Pusat Statistik dari Januari sampai Juni 2009 nilai impor perikanan justru sedikit lebih kecil yaitu sebesar US$ 72 juta.
Director Head of Commerce PT Bumi Menara Internusa, Aris Utama berpendapat, meningkatnya impor karena produk perikanan Indonesia kurang bersaing baik dari segi kuantitas maupun kualitas. “Kalau produk kita cukup kompetitif, kebutuhan dalam negeri tercukupi, dan jika ada kelebihan justru bisa ekspor ke luar negeri dan tidak perlu impor. Itu yang kita inginkan,” tandas Aris kepada TROBOS di Surabaya beberapa waktu lalu.
Fakta di lapangan menunjukkan, berbagai komoditas perikanan dari negeri seberang dipasarkan di Indonesia dengan harga yang jauh lebih murah. Contohnya ikan teri hasil tangkapan nelayan dipasarkan dengan harga sampai Rp 18.000 per kg. Sedangkan teri impor diritelkan harganya hanya sampai Rp 12.000 per kg.
Demikian pula dengan ikan tongkol atau selayang impor, yang  kini dipasaran harganya terpaut antara Rp 2.000 sampai Rp 4.000 per kg lebih rendah dari harga ikan tangkapan lokal. Juga ikan salem dan kembung dari Cina yang harganya cuma Rp 6.000 sementara ikan asal Indonesia harganya Rp 8 – 9 ribu.
Aris mengungkapkan, jika ada impor khususnya produk perikanan harus hati-hati dan bukan sekonyong-konyong impor. Administrasi pemerintah pun harus jelas apa yang di impor dan untuk tujuan apa. “Kalau tujuan untuk konsumsi dalam negeri dan pemerintah mau memproteksi silahkan. Tapi kalau impor untuk menjaga kelangsungan hidup tenaga kerja yang menyerap misalnya 100 ribu orang, harus dipikirkan matang-matang,” sarannya.

Siapkan Aturan
Seakan menjawab kebutuhan para pelaku usaha perikanan, KKP pun mulai bergerak. Menurut Menteri kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad, pihaknya tengah menyusun  Peraturan Menteri (Permen) terkait pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan yang masuk wilayah Indonesia.
Ia menambahkan, peraturan ini lebih fokus pada pengawasan kualitas impor produk perikanan. “Kita ingin punya aturan standar kualitas produk perikanan seperti yang diterapkan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Aturan ini tidak akan bertentangandengan aturan perdagangan internasional,” kata Fadel.
Lebih lanjut dijelaskan oleh Direktur Pemasaran Luar Negeri, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) KKP, Saut P. Hutagalung. Menurut Saut, salah satu alasan dibuatnya yaitu masuknya ber produk perikanan dari negara lain disinyalir kurang aman dikonsumsi.
Pasalnya, lanjut Saut, pihaknya menemukan sejumlah produk impor perikanan dengan kualitas di bawah standar bahkan berbahaya, misalnya mengandung formalin. “Hasil pengujian laboratorium membuktikan hal tersebut, seperti belum lama ini terjadi di Sumatera Utara dan Batam,” ungkap Saut.
Ia menambahkan, selama 30 tahun terakhir Indonesia lebih banyak fokus pada aturan ekspor. “Sementara aturan mengenai impor sangat minim, termasuk mengenai pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan,” papar Saut.
Ikut menjelaskan, Sekretaris Jenderal P2HP KKP, Victor PH Nikijuluw, mengatakan, Permen ini nantinya sama sekali tidak menyinggung aspek finansial atau hambatan tarif,    tetapi berkaitan dengan kualitas dan keamanan produk. “Ini adalah aspek teknis yang berlaku untuk semua komoditas dan diterapkan juga oleh negara lain,” jelas Victor.
Ia menambahkan, tren peningkatan importasi pada triwulan pertama 2010 didominasi jenis-jenis ikan yang memang tidak dihasilan di Indonesia. Contohnya ikan salmon untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan hotel dan restoran bagi orang asing. Selain itu impor juga banyak dilakukan pada produk tepung ikan dan tepung udang yang merupakan bahan baku industri pakan peternakan dan perikanan. Ada juga impor indukan udang.

Selengkapnya baca diMajalahTROBO Edisi Agustus 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s