Peluang Nilai Tambah dari Kuli Ikan


Nelayan di Bangka Selatan berpeluang menambah penghasilan dari sektor lain selain hasil tangkapannya. Pasalnya, ikan pari yang selama ini menjadi salah satu hasil tangkapan nelayan setempat ternyata bukan hanya dagingnya saja yang laku dijual, kulitnya pun bisa menjadi peluang bisnis yang cukup menjanjikan.
Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Penanaman Modal (Diperindagkoppem) Bangka Selatan, Endang S Hermansyah kepada Bangka Pos Group, belum lama ini. Endang mengaku, beberapa waktu lalu pihaknya telah berkoordinasi dengan sebuah lembaga terkait di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) guna membuka peluang pasar bagi nelayan di Bangka Selatan yang berminat menambah penghasilannya dari bisnis kulit ikan pari tersebut. “Saya sudah buka pasar di Balai Besar Kerajinan Kulit, Karet Yogyakarta.

Dan mereka siap menampung berapapun jumlah produksi kulit ikan pari dari nelayan kita. Ini merupakan kesempatan bagus bagi nelayan kita di sini (Bangka Selatan–red),” kata Endang. Kendati demikian, Endang mengungkapkan, lembaga yang beralamat di Jalan Sukamandi Yogyakarta ini hanya menerima kulit ikan pari dalam bentuk bahan setengah jadi sebagai bahan baku mereka membuat dompet, ikat pinggang maupun berbagai jenis asesoris lainnya yang kemudian di ekspor ke luar negeri.

Oleh sebab itu, kata Endang, dalam waktu dekat pihaknya akan mendatangi instruktur dari luar daerah Bangka Belitung guna memberikan bekal keterampilan mengolah kulit ikan pari menjadi barang setengah jadi kepada nelayan khususnya yang berminat menggeluti bisnis ini sehingga produksi kulit ikan pari mereka nanti dapat diterima oleh balai besar kulit tersebut. “Sekarang pasar sudah terbuka dan bahan baku kulit ikan pari pun banyak di daerah kita ini, tinggal kita memberikan keterampilan kepada mereka bagaimana menghasilkan barang setengah jadi dari kulit ikan pari tadi,” ujar Endang.

Namun Endang belum menyebutkan berapa harga kulit ikan pari yang telah diolah menjadi bahan setengah jadi tersebut. Lebih lanjut Endang mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bangka Selatan guna mengetahui produksi ikan pari hasil tangkapan nelayan di daerah tersebut.

Di tangan para perajin, kulit ikan pari ternyata bisa disulap menjadi barang seni bernilai tinggi. Para seniman asal Kampung Sampun, Boyolali, Jawa Tengah, ini telah membuat berbagai kerajinan kulit pari mulai dari tas, dompet, hingga ikat pinggang. Proses pembuatan kerajinan ikan berbuntut panjang ini cukup sederhana. Pertama-tama kulit ikan dipilih, dicuci, dan diberi pewarna. Setelah dikeringkan dengan cara ditempel di pagar tembok, kulit tersebut dihaluskan dan dipotong sesuai bentuk yang diinginkan. Potongan-potongan itulah yang kemudian dirangkai menjadi beragam aksesori. Indriyanti, salah seorang perajin mengaku memulai bisnis ini dari keprihatinan. Karena sempat bekerja di pabrik pembuatan tas, ia pun memanfaatkan kulit ikan yang kerap dibuang itu.
Kerajinan kulit ikan pari kini telah dipasarkan ke berbagai kota di Tanah Air dan juga mancanegara. Tak pernah terpikirkan oleh Dwi Lestari (29) kalau acara piknik dengan pacarnya ke Cilacap, Jawa Tengah, ternyata berbuah manis. Di sana ia menyaksikan begitu banyak ikan pari. Di kepalanya langsung terlintas ide membuka usaha penyamakan kulit ikan pari untuk bahan baku kerajinan.

Ide membuka usaha ini lumrah bagi Dwi sebagai alumnus Akademi Teknologi Kulit (ATK) Yogyakarta. “Waktu itu, saya berpikir kenapa kulitnya tidak disamak dan dimanfaatkan untuk bahan kerajinan,” tutur perempuan kelahiran Klaten, Jawa Tengah, itu di rumahnya di Dusun Dadapan, Timbulharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta. Pacarnya, Miftakhul Khoir, yang sekarang menjadi suaminya, juga sepikiran. “Waktu itu kerajinan kulit hanya mengandalkan kulit sapi dan kulit kambing. Belum ada yang melirik kulit ikan pari,” ujarnya. Menurut Dwi, dibandingkan kulit sapi dan kambing, mengolah kulit ikan pari jauh lebih sulit. Struktur butiran-butiran pada kulitnya membuat prosesnya lebih rumit. Untuk mengolah kulit mentah ikan pari menjadi kulit kering setidaknya dibutuhkan waktu 15 hari. “Namun, kulit ikan pari jauh lebih eksotik dan menarik karena terdapat butiran mutiara di bagian tengahnya,” ujar Dwi. Meski prosesnya rumit, tahun 2002, Dwi memutuskan untuk menggeluti usaha penyamakan kulit ikan pari.

Setelah lulus dari ATK tahun 2003, ia memperluas usahanya ke arah produksi berbahan baku kulit ikan pari. Mulailah ia membuat dompet, ikan pinggang, dan tas. Dompet dijual seharga Rp 90.000-Rp 200.000 per unit, dan ikat pinggang Rp 150.000- Rp 450.000 per unit. Sementara itu, harga tas sangat bergantung pada desainnya. Berkisar dari ukuran kecil Rp 250.000-Rp 300.000 per buah hingga Rp 500.000 per unit untuk ukuran besar. Dwi juga menerima pesanan pembuatan tas berbahan baku kulit ikan pari. Jenis produknya terus bertambah dan saat ini sudah mulai merambah ke furnitur. Kulit ikan pari dipakai untuk melapisi mebel sehingga terlihat lebih cantik. Untuk produk terakhir ini, Dwi tengah berusaha menjalin kerja sama dengan kalangan pengusaha mebel.

Kini dalam sebulan omzet usaha Dwi bisa mencapai Rp 15 juta-Rp 20 juta dengan marjin sekitar 30-40 persen. Produknya dijual ke sejumlah kota, seperti Jakarta, Denpasar (Bali), dan Medan (Sumatera Utara). Bersama suaminya ia terus memasarkan produknya melalui pedagang-pedagang besar. Untuk memantapkan kegiatan promosi, ia tengah membangun ruang pamer sederhana di sebelah rumahnya di Bantul, DIY. “Sebenarnya kami sudah memiliki stan di Pasar Seni Gabusan Bantul, tetapi karena jam operasinya pendek hasilnya kurang maksimal. Dengan showroom sendiri, harapannya, penjualannya bisa ditingkatkan,” katanya.

Meski awal perkenalannya dengan kulit ikan pari terjadi di Cilacap, Dwi sekarang beralih ke ikan pari daerah pesisir utara Jawa. Menurut dia, ikan pari Cilacap kulitnya agak lembek sehingga kurang bagus jika diolah menjadi produk kerajinan.

Empat jenis kulit

Ada empat jenis kulit ikan pari. Jenis gitar dibeli seharga Rp 10.000 untuk ukuran 13 cm, jenis oval untuk ukuran 13 cm Rp 8.000, jenis batu halus Rp 5.000-Rp 10.000 untuk ukuran 25 cm, dan jenis pari duri Rp 30.000 untuk ukuran 15 cm.”Jenis duri memang paling mahal karena stoknya langka. Tekstur kulitnya juga lebih unik karena guratan duri di bagian tengahnya,” ujar Dwi.

Agar pasokan bahan kulit tidak tersendat, Dwi selalu membuat stok dalam jumlah besar, terutama pada saat kondisi air laut surut. Pada saat laut pasang, stok ikan pari biasanya menyusut. “Stok itu lalu diawetkan dan bisa tahan selama satu bulan,” ujar perajin yang saat ini mempekerjakan sembilan tenaga kerja. Proses produksi dimulai dengan membuat pola pada kulit ikan pari yang sudah kering, lalu memotongnya. Sebelum dijahit terlebih dahulu, kulit digerinda dulu untuk menghaluskan butiran-butiran yang melekat pada garis jahitan. Kalau tidak digerinda, proses penjahitan tidak bisa presisi, tak rapi. Untuk pewarnaan, ia memanfaatkan bahan cat mobil. Keterampilan sebagai penyamak juga dimanfaatkan Dwi dengan membuka jasa penyamakan untuk kulit apa saja di rumahnya. Untuk jenis ular piton, misalnya, ia mematok tarif Rp 35.000 per meter, sedangkan ular sanca Rp 30.000 per ekor. “Karakter kulit ular piton agak rumit,” ujarnya.

Meski segmen pasarnya lebih mengarah ke kalangan menengah ke atas, Dwi tetap yakin usahanya akan berkembang pesat. Salah satu kuncinya adalah kegigihan untuk terus berinovasi dan berpromosi. Ada lagi kisah menarik seorang perajin kulit ikan pari, belum banyak orang yang mengunjungi tempat ini. Mungkin karena hari masih pagi dan baru buka. Sekilas memang hanya seperti tempat penjualan kerajinan kulit biasa. Apalagi yang dijual hanya dompet, tempat hp dan ikat pinggang seperti yang bisa kita dapatkan secara gampang dan murah di Malioboro. Tapi lambat laun, tempat ini mulai dipadati pengunjung. Ada apa gerangan?

Kerajinan dari kulit ikan pari. Apa bisa kulit ikan dibudidayakan menjadi kerajinan? Inilah yang dilakukan Sulaiman si pemilik usaha kerajinan yang bernama Fanri Collection ini. Sudah hebat membuat kerajinan dari kulit ikan, semua pekerjanya dan Sulaiman sendiri pun adalah orang-orang difabel yang direkrut langsung oleh Sulaiman untuk mau maju dan bekerja tanpa memandang kekurangan mereka.   Awal mulanya Sulaiman mengikuti pelatihan pengolahan limbah ikan pari yang diadakan di Bantul, karena produksi ikan terbesar di Yogyakarta memang ada di Pantai Depok (salah satu pantai yang berdekatan dengan Pantai Parangtritis -red).

Dari situlah ia mencoba peruntungannya untuk membuka usaha kerajinan dengan memanfaatkan limbah ikan pari. “Daripada jadi limbah dan tidak tahu mengelolanya, mending kita manfaatkan saja,” ujar Aji Musyafa, Marketing Fanri Collection kepada GudegNet di stand-nya dalam Pameran Indonesia Aquaculture 2008 (18/11).  Usaha yang dibangun oleh Sulaiman ini sejak tahun 1995 sudah tercatat di Dinas Perdagangan Industri dan Koperasi DIY. Kalau dulu hanya memanfaatkan limbah ikan pari saja, sekarang Fanri Collection sudah mempunyai ijin untuk langsung “menguliti” ikan pari untuk dijadikan kerajinan. “Ini kan untuk usaha juga. Tapi kita sudah punya ijin dari Disperindakop untuk ini. Kalau cuma tergantung sama limbahnya saja kan bisa seret juga usaha kita,” jelas Aji.   Peminat dari kerajinan ini sangat banyak. Bahkan Sulaiman sudah mengekspor hasil karyanya bersama difabel yang lain sampai ke luar negeri. Swiss dan New Zealand menjadi tempat langganan kulit ikan pari ini mampir. 10 tahun yang lalu mereka sempat membuat sepatu dan tas dari kulit ikan pari, tetapi peminatnya kurang dikarenakan harganya yang mahal. Sekarang Sulaiman bersama kawan-kawannya hanya membuat dompet, tempat hp dan ikat pinggang yang dapat kita beli dengan harga Rp 30.000,00-Rp 300.000,00. Bagi para peminat atau pengkoleksi kerajinan kulit bisa langsung datang ke stand Fanri Collection yang ada di Pameran Indonesia Aquaculture 2008 dari tanggal 18-20 November 2008 di Hotel Inna Garuda Yogyakarta atau datang langsung ke tempat produksinya yang ada di Jl. Kaliurang Km 13,5 Sukoarjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Jangan takut dan ragu karena kerajinan kulit ini tidak berbau seperti pada kerajinan kulit lainnya. Kandungan H2O yang dipakai untuk merendam kulit ikan pari ini dapat memusnahkan bau yang mengganggu. Panasnya matahari yang dipakai untuk mengeringkan kulit ikan pari ini pun dapat mengeraskan kulit sehingga dapat dibentuk berbagai macam pola. Warna-warna yang menarik dan memikat mata pun bisa anda dapatkan pada koleksi yang satu ini. (fn/lp/km/gn/bp) www.suaramedia.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s